BN

Belasan Brimob Dipelor Teroris

Jumat, 5 Maret 2010 | 18:14:20
Dalam seminggu terakhir, pasca penggerebekan markas Jamaah Islamiah (JI) di Aceh Besar, situasi Aceh makin panas. Kawanan teroris memberikan perlawanan sengit, hingga jatuh korban di kedua belah pihak. Jika kemarin anggota sindikat yang ditembak mati, kini giliran belasan aparat Brimob jadi sasaran peluru. Mereka roboh dan terpaksa diboyong ke rumah sakit.

Diperkirakan sebanyak sebelas anggota Brimob Polda Aceh menjadi korban, saat terjadi baku tembak dengan kelompok bersenjata di Kawasan perbukitan antara Lamkabeu dan Lamteuba, Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (5/3). Sampai Jum’at (6/3) kemarin, para korban masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh.

Direktur RSUZA Banda Aceh, dr Taufik Mahdi SpOG mengatakan, sejak kemarin sore pihaknya telah menerima 11 orang pasien dari Brimob Polda Aceh. Namun hanya satu pasien yang harus mendapatkan perawatan intensif, karena mengalami luka tembak di bawah ketiak hingga tembus ke punggung dan mengenai paru – paru, sedalam 2 centimeter. Kondisinya sekarang mulai membaik setelah mendapatkan penanganan medis.

Dilanjutan Taufik, hanya satu orang yang harus menjalani operasi untuk mengeluarkan proyektil peluru yang bersarang di bagian pundaknya. "Peluru telah kita keluarkan, jenisnya kita tidak kenal, karena itu bukan ranah kita” kata Taufik.
Sementara itu, jumlah pasien dari Brimob sacara umum harus menjalani perawatan intensif di dalam ruangan berjumlah 5 orang, sedangkan 6 pasien lainnya kondisinya tidak terlalu parah, cuma berobat jalan.

“Tidak ada korban yang tewas, secara umum mereka hanya mengalami luka dibagian ringan terkena peluru, yang bersarang peluru ditubuhnya hanya satu personil, lainnya ada yang terserempet ada juga yang tembus” kata dia.
Lebih lanjut Taufik menuturkan, kondisi para personil Brimob dalam keadaan stabil. Tidak ada pasien yang tewas, hanya alami luka – luka saja.
Sempat berkembang jika tadi malam pihak RSUZA menerima satu pasien dari masyarakat sipil yang diduga menjadi korban penembakan akibat diterjang peluru nyasar.

Namun, saat hal tersebut dikonfirmasi kepada Direktur RSUZA dia mengatakan tidak ada, masyarakat yang di bawa ke RSUZA akibat mengalami luka tembak.
Tadi malam jelasnya, untuk memberikan pertolongan dan mengantisipasi hal terburuk, pihak rumah sakit menyiapkan 3 dokter bedah, 4 dokter bedah tulang dan dua bedah torak.

Warga 2 Desa Ngungsi, 3 Terjebak

Pascakontak tembak di Desa Lamkabeu, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar, Kamis (4/03), warga dua desa, yaitu Desa Bayu dan Alue Dua, mengungsi ke Desa Lamkabeu yang berjarak 3 dan 4 kilometer dari lokasi kontak tembak antara kepolisian dengan kelompok radikal.
Bit Ali (75) dan enam anggota keluarganya yang lain dari Desa Alue Dua, terpaksa menumpang di tempat sanak famili dikarenakan kontak tembak persis beberapa meter di belakang rumahnya. "Baju pun yang ada dibadan dan sudah dua hari tidak ganti-ganti. Mana, saya ada anak bayi lagi, tetapi kami sudah diberitahukan, agar tidak kembali sebelum petugas mengatakan keadaannya aman," kata Bit Ali, kepada koran ini, di Desa Lamkabeu, Seulimum, Jumat (5/03).

Diakuinya, saat kontak tembak itu, mereka dan beberapa warga Alue Dua dan Desa Bayu, sedang melayat ke rumah duka, Nurbani, korban peluru nyasar yang diduga ditembak kelompok radikal tersebut. Seusai mengebumikan korban dari warga sipil itu, warga dua desa tersebut dimintakan keluar dari desa mereka.

Warga pun lari menyelamatkan diri ke Desa Lamkabeu, dengan kebutuhan seadanya saja yang sempat mereka bawa, sementara di belakang mereka suara desingan peluru saling balas membalas. Ketakutan dan trauma konflik masa lalu, semakin membuat warga mempercepat langkah kakinya. Ada juga yang memaju laju kendaraannya menuruni bukit, lanjuta Bit Ali.
Senada itu, Kartini, warga Desa Lamkabeu, mengungkapkan kalau suami dan anaknya berusia 6 tahun, terjebak di pondok sawah mereka yang berjarak kurang lebih 8 kilometer dari Lamkabeu. "Aku mau ke atas, tetapi tidak dibolehkan polisi. Kalau pun aku nekad juga, maka resiko ditanggung sendiri, begitu kata salah seorang polisi di sana. Jadinya aku tidak berani ke atas," ujar Kartini sambil menitikkan air matanya.

Diungkapkan ibu muda ini, sebelum kontak tembak terjadi, ia turun ke Lamkabeu, untuk membeli ikan, beras, gula, dan makanan ringan pesanan anaknya. Tetapi, begitu mau kembali ke atas, kontak tembak pun terjadi dan dirinya tidak berani naik lagi. Hanya saja, ujarnya, anak dan suami tidak makan apapun akibat terjebak di atas sana.
Diakuinya, ia akan nekad untuk menjemput suami dan anaknya, tetapi belum dibolehkan juga oleh petugas. Begitu pun, lanjutnya, tidak ada tanda-tanda kalau suami dan anaknya, turun ke desa Lamkabeu. "aku takut kalau terjadi apa-apa dengan anak dan suamiku. Soalnya tidak ada kabar apapun, sementara handphone, aku yang bawa turun," ucapnya sambil menyeka air mata yang menetes ke pipinya.

Sementara itu, warga lima desa di Kemukiman Lamkabeu, meliputi Bayu, Ayun, Meunasah Tunong, Mange, dan Bateu Lhe, tidurnya di atas lantai. Mereka mengaku tidak ada yang berani, karena takut kalau ada kontak tembak bakalan terkena peluru nyasar. Begitu juga, ketika malam, warga tidak ada yang menyetel televisi atau radio dan tape.

"Masa konflik dulu membuat kami terbiasa untuk selama mawas diri dan tidur pun di lantai. Kasur kami turunkan dan tidak ada aktifitas apapun selain berada dirumah masing," ujar T.Syafrudin Johan, 65 tahun, warga Lamkabeu, kepada koran ini. Dia bilang, hingga hari kedua, situasi masih mencekam dengan semakin berdatangannya pasukan ke lokasi.
Amatan koran ini di lokasi, sekira pukul 10.15 WIB hingga menjelang Salat Jumat, ada 10 truck pasukan yang masuk ke lokasi. Sementara pasukan Brimob dari Kelapa Dua Jakarta, tiba di lokasi. Pasukan yang di TKP diperintahkan turun dan meninggalkan posisinya, untuk digantikan dengan pasukan yang baru tiba.

Masyarakat di Desa Lamkabeu, terlihat hanya duduk-duduk di depan rumah mereka masing-masing. Sedangkan aktifitas belajar mengajar tetap seperti hari biasa di SD Lamkabeu, namun sehari sebelumnya, sekolah terpaksa diliburkan karena kontak tembak itu

Usai Desingan Peluru, Sholat Jumat Jalan Terus

Sehari pascakontak tembak di pegunungan Seulawah di Kemukiman Lamkabeu, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar, warga setempat tetap melaksanakan Salat Jumat di Mesjid Lamkabeu, Jumat (05/03).

"Jumlah jemaah Jumat, sama seperti Jumat'an kemarin-kemarin. Ya, berkisar antara 40 hingga 50 warga. Sedangkan warga beberapa desa lainnya, jumatan di mesjid yang berjarak dua kilometer dari desa ini," kata Geuchik Lamkabeu, Masmun Ahmad, 40 Tahun, kepada koran ini, Jumat (5/3) di Lamkabeu.

Diakui Masmun Ahmad, warga segan masuk ke Mesjid melalui pintu depan dikarenakan banyak kendaraan polisi di parkir di sekitar pintu gerbang dan halaman depan mesjid tersebut. Jadinya, ujar Geuchik itu, warga pun memutar jalan masuknya melalui belakang dari halaman dayah setempat.

Menurutnya, meskipun mereka tetap melaksanakan Salat Jumat, tetapi perasaan warga masih was-was dan trauma masa lalu pada saat konflik pun kembali 'menguak' memory sebagian besar warga desa tersebut.

Dia bilang, usai Salat Jumat, mereka sekalian mengerjakan Salat Idah Dzuhur 4 rakaat dan do'a dipanjatkan untuk kedamaian desa serta Aceh keseluruhannya.
Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*:
Email Anda*:
Website Anda:
Komentar Anda*:
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
 
 

klickebrita @ all right reserved (2010) design by mimient van that